Thursday, 25 May 2017

Teratai Kebiruan (Syair Cinta)

Teratai Kebiruan

(Nilam Fajar Mahyumi)


Balutan kostum lugu
Diiringi dentuman tapak di tangga kasta
Menghadang anak panah daripadaku
Sama sekali bukan kejutan

Aku dalam ujung barisan
Diselingi bulu mata nan kian bergurau
Jugapun helaan tanpa kabar
Seketika menduga dagu

Itukah sulur baru?
Pengalih berbagai gincu
Menjadi magnet dalam tatanan baru
Mengalahkan berita kerajaan itu

Aku mengaku biru
Tampaknya, teratai dalam pihak biru
Sembari kerajaan mendalangi norma
Berhasillah teratai dirakitnya

Teratai dikebiruan
Nyaris tumbuh di air biru saja
Hingga air lain menampakkan irinya
Seberuntung itukah?

Sekalipun tak pernah mengabir sulur baru
Hingga hati air birupun terkungkung
Lantaran nyaman disebelahnya
Berkat rakitan teratai kerajaan

Solo, 13 Februari 2017




Terima kasih ELLUNAR PUBLISHER
email ellunar.publisher@gmail.com
instagram @ellunarpublish_
website www.ellunarpublisher.com

LOVE RHYME


(cetakan pertama April 2017, Bandung)



Friday, 12 May 2017

Ragu yang Takut (Puisi Cinta)

Ragu yang Takut


(Nilam Fajar Mahyumi)

Takut!
Kenapa semua kuingat?
Sekecil tatapan
Sesingkat candaan
Sedikit luapan
Sependek iringan
Sebentar saja

Bergejolak!
Terbang dan melayang
Hingga jatuh dan tertindas
Aku yakin bahwa tidak yakin

Ucapan yang sempurna
Itu yang kusuka
Sangat membuka yang baru
Akan jadi luka?
Atau jadi suka?
Semua hampir cita!

Tidakkah ada gunanya?
Itu usahaku!
Hanya satu dan tidak lagi

Haruskah kupegang teguh mitos dan pemikiran itu?
Bukan lagi suatu hal yang fana
Oh, mungkin saja masih fana
Fana, untukku.

Teka-teki yang sangat berbeda
Balasan yang tak biasa
Aku ragu
Karena aku takut
Tentu saja takut berlabuh
Pelabuhan yang pasti tak ada pastinya

Tujuh hari lagi
Siapa akan sangka?


-0,1 dan +0,1 (Puisi Cinta)

-0,1 dan +0,1

(Nilam Fajar Mahyumi)


Tulisan itu benar-benar mempan
Tentu saja!
Bagaimana bisa aku menolak
Bahkan ulat bulu akan merinding dibuatnya
Pemilah diksi terbaik

Terlalu berlebihkah?
Itu salahmu!
Aku bahkan tidak menyangka
Namun, bukan rasa tertinggi
Aneh yang tetap kurasa

Suara bising daripadamu
Mengalihkan semuanya
Padahal penampakan di depanku jauh lebih asyik
Hingga tidak kurasa apapun
Benar!
Bahkan tidak kudengar apapun

Tapak-tapak putaran yang kita buat
Benar membuat lelah
Namun, bukan apa-apa
Aku lebih menikmatinya
Ketimbang kumbang bersarang

Mulut mulai bergema
Bibir tiba bercanda
Bahkan dahaga tak kurasa
Suasana yang benar-benar membuatku nyaman
Keringat kedua tak seharusnya hadir
Tapi aku suka

Berkali-kali dan aku suka
Sangat banyak baiknya

Candaan yang makin memperthatikanmu
Lama-lama nyaman dibuatmu
Arah itu makin membuatku malu
Bak mentari tak jadi bersirna
Karena mendung membuatnya malu
Tapi kau bukan mendung
Mata itu untuk kali pertamanya

Aku bingung
Kemana aku harus memandang
Membuatku geli
Bisa-bisanya!

Jam berapa ini?
Putaran detik yang berulang sangat cepat
Aku tak merasakannya
Bahkan rasa yang harusnya aku rasakan biasanya, tak muncul
Aneh saja.

Lontaranmu sama!
Aku senang!
Bahkan sangat senang
Apa kau juga?

Mata itu lagi!
Kali ini aku tidak akan menghindar
Benar-benar indah
Nyatanya bertuju mataku
Aku makin senang!

Kenyamananmu lebih berarti
Bahkan lebih dari pandangan itu
Matamu itu bumi dan dirimu dunia
Aku lebih senang dengan tenangnya daripadamu
Membuatku bahagia
Ya, tahap bahagia, sekarang

Lalu, bukan perpisahan
Hanya saja memang harus pulang
Aku yakin, ini bukan nol
Selalu ada -0,1 dan +0,1