Friday, 23 February 2018

Puisi Sebal

Sebal

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Sebal.
Sudah berapa kali menulis sebal
Hujan dan kerigat terlihat tak terlihat
Kombinasi apik karena sama-sama bening
Hanya rasa saja yang berbeda

Jatuh tempo berebut tangan
Jemari mengusap kasar pada baju
Karena takut kotor bila menyentuh apa
Sayang sekali menyebalkan

Beruntungnya senyum berpanah sesekali
Memberi asa dan rasa
Karena keduanya akan buyar bila tak ada etika
Akan kuingat menyiram langit dengan bintang, selalu dan selamanya.

Surakarta, 1 Februari 2018

Puisi Simbiosis Mutualisme

Simbiosis Mutualisme

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Seperti sebuah akustis pada akhir tahun
Lelaki tak akan mampu bertahan
Bila wanita enggan berada disampingnya
Pola umum manusia, lelakipun butuh bersandar
Bahkan jika tak ada pundak, sejatinya bahagia akan datang
Bila wanitanya hendak dengan tulus bersandar padanya
Sebuah perkara yang mampu membuat ketergantungan

Betapa istimewanya seorang wanita
Meski dibaliknya ia tak mampu berdiri sendiri
Ia butuh sosok yang membuatnya kokoh dan meraih cinta
Sekadar 'tuk mendengar dan didengar
Sekadar 'tuk mengintip lewat mata dan hati
Terasa menenangkan mendengar hembusannya 
Cukup. Telah cukup wanita bergejolak bahagia
Hingga repotnya lelaki menjadikan wanita tersipu rindu


Surakarta, 1 Februari 2018

Puisi Sendiri

Sendiri

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Menyendiri bukanlah sendiri.
Menyendiri menjadi sebutan hitam, kadang.
Pita hias yang selalu lepas memiliki arti.
Semua lepas dan terpasang pada saat yang tepat.

Tak perlu menunggu pemiliknya menghendaki.
Karena untuk apa menunggu persetujuan.
Seperti awan yang menjadi mendung seketika.
Tanpa permintaan seorang hamba dari bawah.

Jika Dia berkehendak, apapun dapat terjadi.
Sendiri akan menjadi pilihan ketika memang tak ada yag lain.
Sebuah takdir, namun tak buruk dan dalam.
Bukan masalah karena sendiri, indah.

Sendiri itu indah.
Sendiri itu mampu indah.
Sendiri itu akan indah.
Bila memandangnya indah.
Karena memang indah tanpa keluhan.
Maka tak perlu risau dan menyesal, bahkan dengki.


Surakarta, 1 Februari 2018