Friday, 24 November 2017

Puisi Kapan Puncak Sebatas Angan

Kapan Puncak Sebatas Angan

oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Angin saja terasa
Mengapa banyak orang merendahkannya?
Lalu-lalang belalang menjerit gembira
Entahlah, itukah kegembiraan?
Dalam tiupan angin hebat, belalang tak berkutik
Kata siapa? Mereka selalu tergoyah
Namun kepalan telapak menempel kuat pada ilalang

Lalu bagaimana dengan angan?
Separuh penuh harap
Tetapi ditakuti
Apakah sebuah angan akan menjadi senang?
Tentu saja tidak
Patutnya angan akan dipuja
Tetapi mengapa banyak orang tak inginkan itu?
Banyak alasan.

Banyak alasan pada hati manusia
"Aku takut jatuh!"
"Aku tak mau rendah."
"Bagaimana jika itu menyakitkan?"
"Sudah! Cukup! Sampai disini saja."
"Pergi! Aku tak mau kecewa. Terima kasih."

Alasan mengapa puncak selalu menjadi angan yang tak tersentuh
Maknai itu!

Puisi Menahan Puncak

Menahan Puncak

oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Aku bingung mengais masa depan
Berjaga selalu agar tak mundur
Karena apa daya pada masa lalu
Sampai aku temukan memori dalam otak

Untuk apa menyesalkan masa lalu?
Apa guna mempersulit masa depan?
Sedangkan masa kini lebih genting
Kenapa?

Tentu saja tak terlihat dan terdengar sebuah masa depan
Bilamana masa kini tak berdasar
Bilamana masa kini selalu ditundakan
Bilamana masa kini selalu diringkus

Banyaknya embun pada siang hari
Mengisyaratkan kejanggalan
Ya, tentu saja
Bagaimana tidak jika embun harusnya kuresap dini hari

Ketika kicauan bergurau dalam sunyi
Terus saja menatap wajah pada kaca
Menyusuri dunia berjenis maya
Menahan penat atau menunda puncak?

Puisi Tepatkah Posisiku?

Tepatkah Posisiku?


oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Huru-hara melambai hingga nyiur
Gunjingan nada tak karuan
Menyapu sepi kian demikian
Mengambang pada batas waras

Siapakah aku berdiri tak tentu?
Menunggu celah untuk bertanya
Namun pada siapa perlu kuungkap?
Menadah ingin walau tak mudah

Berada di persimbangan dan ambang
Keduanya tak mau untuk dipijak
Lalu kemana harus berteguh?
Kemana jua harus berhenti?

Lembayung senja tertulis tanpa arah
Meneguk air sungai yang jadi baik
Ada banyak talas hanyut dalam arus
Mendua wajah 'kan menopang luka

Puisi Berdalang Bahasa Tidak Bersama

Berdalang Bahasa Tidak Bersama


oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Seikat buah bibir bermakna fana
Sebuah janji yang diterpa
Hebat sekali manusia berdalang
Meniti hubungan lewat bahasa

Bak bayangan pada pukul 12 siang
Terlihat jelas buramnya
Bahkan gelap tampaknya
Hingga garis berdalih tegas

Sayang sekali, bukan ungkapan cinta
Bahasa palsu terus merintih
Paksaan ego hendaknya dibungkam
Agar jerih payah tak menjerit

"Dapatkah kau dengar?"
Denging telinga tak acuh lagi
"Sudahkah aku terganti?"
Betapa yang lalu tak lagi diingat

Berkumpulpun tak ada kritik
Mendekatpun tak ada bising
Menempelpun tak ada hati
Melirikpun hanya sedetik

Lantas bagaimana dengan sumpah kelingking
Menapak ramai pada dunia maya
Mungkinkah harus menunggu sakit?
Agar tumbuh rasa dalam-dalam

Menanyakan realita pada skema
Tak ada guna mendengar 'kini'
Jika tak punya ingin di hati
Apalagi bersusah perwajahan