Thursday, 9 February 2017

Syair 'apa salahnya menolak?'

Apa Salahnya Menolak?


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Kalau kubuka dikira melirik
Kalau kulihat dikira melotot

Apa salahnya menolak pintu cela
Celanya yang tak terlihat
Terlihat dalam vokal implementasi
Implementasi yang sudah seharusnya tidak
Tidak untuk diimplementasikan

Bukan keburukan yang nyata
BUkan pula keburukan yang fana
Nyata, dapat tersentuh
Fana, bukan realita penuh

Syair 'sapu bergilir'

Sapu Bergilir


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Giliraan
Bergilir
Sengaja digilir
Harus digilir

Memang belum sempurna
Atau mungkin memang tidak sempurna

Mungkin tidak sepenuhnya siap
Juga mungkkin tidak seluruhnya siap
Tidak pula menyiapkan kepura-puraan
Pura-pura yang tidak disengaja
Atau mungkin sengaja namun tidak terencana

Tetapi kami bersiap
Masih terus bersiap-siap
Menyiapkan banyak hal
Oh, bukan!
Menyiapkan beberapa hal
Karena banyak hal di luar dugaan
Banyak hal tidak terencana

Jangan salah!
Ada satu yang kami siapkan
Sapu

Banyak makna tentang sapu
Bisakah?
Dapatkah?
Perlukan?
Mungkinkah?
Terimalah!
Tolonglah!
Jabarkanlah!

Syair 'pasar'

Pasar


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Menukar uang 
Menukar barang 
Menukar jasa

Mencari keinginan
Mencari kebutuhan
Mencari kesempatan

Mendapat impi
Mendapat peluh
Mendapat untung

Jangan lupakan kata 'rugi'

Syair 'gigi'

Gigi


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Katanya kalau senang
Katanya kalau ceria
Katanya kalau suka
Katanya kalau nyengir
Katanya kalau ngenakin
Katanya kalau nyenengin

Dan semua 'katanya kalau-katanya kalau' lainnya

Walau terbukti
Gigi bukan sebagai simbol bahagia saja
Walau terbukti
Gigi banyak ditampakkan kapan saja

Jikalau gigi bukan gigi
Lalu apa maksudnya?
Lalu apa maknanya?

Syair 'kata warisan"

Kata Warisan


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Tidakkah kau paham?
Ilusi dalam mahkota
Kau agungkan dalam jiwa
Tidakkah kau paham?
Itu hanya angan
Hingga menjadi keyakinan

Bukan religi yang kumaksud
Ini mengenai kata
Kata, frasa, klausa, kalimat
Rasa dan perasaan
Pikir dan pikiran

Lalu,
Merah yang sering diartikan berani
Merah yang sering diartikan energi
Merah yang sering diartikan nekat
Merah yang sering diartikan gairah

Juga,
Tradisi yang dikenal unik
Tradisi yang dikenal berlanjut
Tradisi yang dikenal tersebar
Tradisi yang dikenal beragam

Merah dalam tradisi
Mengungkapkan banyak tanya
Apa katamu, apa katanya
Mungkin jadi siput
Bahkan jadi singa

Kali ini
Singa dan siout akan kusebut makhluk
Kali ini
Tempatkan beda sudut pandangmu

Wednesday, 8 February 2017

Yes, I do! (Puisi Cinta)

Yes, I do


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Kata orang, cinta makan hati
Nyatanya, cinta mantapkan hati
Mereka bilang, dia berselera tinggi
Nyatanya, semua dibuatnya luluh hati 

Yes, I do!
Kukatakan kemarin padanya
Yes, I do!
Bukti kuyakin padanya

Sekalipun aku tak pernah bermain-main
Sekalipun aku tak pernah

Yes, I do!
Kuserahkan hatiku padanya
Yes, I do!
Kumau hidup dengannya

menunggu (Puisi Cinta)

Menunggu


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Terdengarkah hentak kakiku?
Terdengarkah detak jantungku?
Terdengarkah kedip mataku?
Terdengarkah hembus napasku?

Aku duduk di depanmu
Sampai kini, aku masih menunggu
Menunggumu, aku disini
Hanya untuk melihat senyum bibirmu
Hanya untuk mendengar suara indahmu

Jangan lagi kau menjauhiku

Syair 'ingin kulupa'

Ingin Kulupa


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Rasa malu itu terus ada
Berlalu, dan aku masih malu
Hingga semua teralih pada hal itu
Bodohnya bertingkah seperti itu

Tak bisa aku berpikir jernih
Hanya karena ngiang
Ingatan buruk itu

Rasanya jadi tersudut
Hawa kelabu menusuk kalbu

Sampai kutulis jelas
Bahwa aku malu
Jangan lagi kau ingat!

hampir patah (Puisi Cinta)

Hampir Patah

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Bersekat dan masih ada jarak
Meski tak saling menatap
Terus tuai asa tanpa henti
Demi baiknya nanti

Kita hampir patah
Lewati detik terpisah
Ketika saling berhadap
Terikatlah jari dan sukma

Hingga suatu masa
Sabarmu, sabarku juga
Kuatmu, kuatku juga
Rasamu, rasaku juga

aku tulus (Puisi Cinta)

Aku Tulus


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Kau kesayanganku
Benar-benar buatku tak bisa lepas

Namun kini, alur indah telah berubah
Memang kau tetap yang kusuka
Dengan egomu, dengan amarahmu
Yang kini, membuatku tersiksa
Merasa terpental keluar angkasa
Lalu sulit 'tuk kembali
Terpenjara dalam rasa sayang

Kadang tersirat untuk pergi
Dengan rasa yang selamanya dalam
Kadang tersurat untuk tinggal
Dengan siksa seberat langit

Dayaku apa?
Meski pintamu kau kujauhi
Tapi rasa dan logikaku tak ingin itu

Syair 'Butuh'

Butuh


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Lemah dan tak seorangpun lihat
Lelah dan tak seorangpun tahu
Sedih dan tak seorangpun paham
Sakit dan tak seorangpun bantu

Bisakah kau bantu aku?
Ulurkanlah tanganmu!
Akan kutunggu, pasti!
Kemudian, kuraih itu.

Memang ikhlas
Namun, kiranya datanglah!
Memang senang
Namun, kiranya hiburlah!

Syair 'TOSSS'

TOSSS

(Totalitas Optimis Semangat-semangat-semangat)

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Beber-bebek beriringan
Menuju sungai berlarian
Telah lama kita berteman
Jangan sampai terpisahkan

Lakukan hal bodoh bersama
Hal benar tak dilupakan
Tertawa adalah kebiasaan
Tangispun tak disesalkan

Totalitas leburkan jalan
Optimis pada tujuan
Semangat dalam hati dan pikiran

Lalu, jadilah kita satu
Meski darah bukan satu


note:
(Totalitas Optimis Semangat-semangat-semangat)
-jargon UKM KMF FIB UNS-

Syair 'the night ending'

The Night Ending

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Last night, people were stuck
They had no conversation
Bored, annoyed, and disappointed
That was a dark night
When every people got a problem

But now, it is a long night
They play a fun game
Then, make a conversation
Laughing, talking, and joking

Everythink becomes a dialogue
Not just a nice topic, but also an unique tragedy

However, all of mistakes will be forgotten
Shaking hand, hugging, and smiling
Those are the ending

Syair 'semut bertunas'

Semut Bertunas

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Kelabu memicu gugup
Helai runtuh berantakan
Setapak ragu melaju
Angsana lebat berkabut


Gundah gulana melingkup citra
Puluhan bibir menaruh ragu
Berteguh hati seperti semut
Kecil yang bertunas


Terdorong atau tertekan
Tertarik atau terulur
Sekutu mengambil asa
Risiko di muka citra, rasa, dan daya

Syair 'bendungan'

BENDUNGAN

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Getar gurau dan debat
Berlanjut hingga peluh menetes
Terukir indah dengan prahara

Bersatu beralunan
Dalam lingkaran berporos
Lalu berputar dan tak pernah putus

Emosi dan hasratnya egois
Namun, bendungan bertahan
Luapannya menjadi normal

Rasanya seperti perang
kehendak berharap-harap
Tertuju elok pada akhirnya