Saturday, 2 June 2018

Puisi Kamu Bulan dan Aku Bintang

Kamu Bulan dan Aku Bintang

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Berada dilangit yang sama
Dalam kurun masa yang memberi arti
Kamu Bulan yang selalu diperbincangkan
Aku Bintang yang sering kehilangan kerlipannya

Saling memberi arti dengan keelokan yang berbeda
Kamu Bulan yang tak pernah padam pada langit malam
Sedangkan aku bintang dengan kehadiran yang tak pernah konsisten
Membawa rasa yang berbeda pada malam yang berganti tanggal

Kamu Bulan dengan senyuman yang memancarkan kekaguman
Aku Bintang yang bisa saja tak akan timbul dalam malam-malam yang panjag

Tanda tanya besar jika kita ditakdirkan bersama
Tanda seru dangkal jika kita menaruh janji
Karena ada frasa yang tak mungkin bila beriringan jika melibatkan dua sinat yang memiliki cahaya yang berbeda

Meski aku tahu bila Bintang tak akan berjanji
Aku tahu, bila Bintang tak mampu menaruh hati
Pada malam tertentu saja Bintamg akan bersinar mengelilingi Bulan
Meski aku tahu jika Bulan akan senang
Namun aku juga tahu jika Bulan hanya sebatas senang
Tak pernah memutuskan untuk berlabuh dimana

Aku Bintang dan aku akan tetap bersinar
Bersinar pada malam yang tepat
Ketika Bulan membutuhkan
Meski Bulan menganggap Bintang sebagai kawan
Tetapi aku, Bintang, tak pernah kehilangan pesona dan selalu hadir ketika Bulan merindukan Bintang

Surakarta, 7 Maret 2018

Puisi Dalam Suatu Ruang

Dalam Suatu Ruang

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Kertas-kertas penunjuk tempo
Lingkaran ajaib penunjuk waktu
Meja hitan yang panjang nan kokoh
Kursi hijau itu lagi
Serta ubin yang mengkilap luar biasa

Membayangkannya membuka pintu
Lalu masuk dan dengan senyumannya mengarah padaku

Ternyata benar, baru saja ia melemparkan senyuman itu tepat kearahku
Apalagi matanya yang bersinar, sama-sama dipanahkan ke dalam retinaku
Aku terpesona
Juga membuatku senyum-senyum sendiri seperti orang gila
Lalu berimajinasi

22 Februari 2018

Puisi Sarkastik

Sarkastik

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Hanya kata 'wah' ynag tak mampu aku ungkapkan lewat bibir
Betapa dan betapa ia luar biasa
Aku rasa dibenaknya adalah malu
Namun sebenarnya, aku justru terkesan

Andai.
Tapi tidak akan pernah
Sarkastikku muncul
Namun tidak untuk aku benci
Karena bagaiamanapun ia terlalu sempurna

Puisi Kursi Kayu

Kursi Kayu


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Kursi-kursi kayu yang digantikan runtutan kursi besi
Buat-baut yang menggantikan paku
Lalu alas keras yang mulai dilupakan akibat lembutnya anyaman baru
Mendapat perhatianku sepenuhnya

Hijau yang dibagi menjadi banyak kategori
Telah memilih warnanya sendiri
Tentu, beserta sebutan barunya
Apalagi merek, yang mana citranya terkadang menutupi kualitas

Sudah lama jaman itu bermula
Kini, sudah saatnya kursi kayu mendapat kelasnya sendiri
Antik. Mendapat nilai dalam status tinggi
Jaman sudah berguling
Meski banyak penawar mencari sensasi kayu

Surakarta, 22 Februari 2018

Puisi Awan

Awan

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Tak sungkan lagi menjadi awan
karena awan berlapis-lapis
Tak banyak lagi waktu tersisa
karena aku berada di ambang

Bukan lagi menjadi takut
karena takut adalah wajar
Bukan lagi merasa tertindas
karena tertindas adalah keseimbangan

Sudah saatnya terus terbang
meski awan menjadi mendung
Karena bagaimana tidak, sebuah awan adalah gapaian banyak manusia

22 Februari 2018

Friday, 1 June 2018

Puisi Cinta Umpan

Umpan

oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Mencintai itu tak semudah dalam ucap
Memberi rasa pada seseorang, melewati batas pintu masuk
Lalu membiarkannya hadir dan datang dalam kalbu

Seribu bahkan milyaran kali berganti tetapi itu tak akan cukup mencari

Biarkan saja orang-orang memberi pancing
Asal umpan yang mereka tawarkan tak sembarangan
Kini, aku telah mengerti bagaimana mereka memainkannya

Namun sayang, bukannya luluh, tetapi ragu
Beruntungnya, aku menjadi tak lagi rapuh

22 February 2018

Friday, 23 February 2018

Puisi Sebal

Sebal

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Sebal.
Sudah berapa kali menulis sebal
Hujan dan kerigat terlihat tak terlihat
Kombinasi apik karena sama-sama bening
Hanya rasa saja yang berbeda

Jatuh tempo berebut tangan
Jemari mengusap kasar pada baju
Karena takut kotor bila menyentuh apa
Sayang sekali menyebalkan

Beruntungnya senyum berpanah sesekali
Memberi asa dan rasa
Karena keduanya akan buyar bila tak ada etika
Akan kuingat menyiram langit dengan bintang, selalu dan selamanya.

Surakarta, 1 Februari 2018