Sunday, 31 December 2017

Puisi Sang Penantipun Berdongeng

Sang Penantipun Berdongeng

oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Ketika aku hendak menjeda,
mengapa datang seseorang?
Mungkinkah ia Adam?

Halusinasi beromansa cinta
Kini, aku lebih berani
Tak lagi bersikap munafik
Untuk apa karenanya?

Tak lagi bertingkah berlebihan
Cukup mengalir dengan gemercik usaha
Akankah itu cukup?

Capung bertanya, "Apakah engkau mampu mengerti?"
Lalu akupun menjawab, "Mengerti akan apa?"
"Tentu saja batasan drama dan realita." jawab capung
Dengan 80% keyakinan, akupun bersuara, "Tenang saja."

Itu cukup membuat capung percaya
Bagaimana tidak?
Sang penanti, aku, merasa terganggu
Sang Adam penyebabnya
Sampai-sampai banyak tulisan kulewatkan
Hanya untuk menulis dongeng tentang Adam, milikku.
Biarkan aku berdongeng, sesaat saja.

Friday, 24 November 2017

Puisi Kapan Puncak Sebatas Angan

Kapan Puncak Sebatas Angan

oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Angin saja terasa
Mengapa banyak orang merendahkannya?
Lalu-lalang belalang menjerit gembira
Entahlah, itukah kegembiraan?
Dalam tiupan angin hebat, belalang tak berkutik
Kata siapa? Mereka selalu tergoyah
Namun kepalan telapak menempel kuat pada ilalang

Lalu bagaimana dengan angan?
Separuh penuh harap
Tetapi ditakuti
Apakah sebuah angan akan menjadi senang?
Tentu saja tidak
Patutnya angan akan dipuja
Tetapi mengapa banyak orang tak inginkan itu?
Banyak alasan.

Banyak alasan pada hati manusia
"Aku takut jatuh!"
"Aku tak mau rendah."
"Bagaimana jika itu menyakitkan?"
"Sudah! Cukup! Sampai disini saja."
"Pergi! Aku tak mau kecewa. Terima kasih."

Alasan mengapa puncak selalu menjadi angan yang tak tersentuh
Maknai itu!

Puisi Menahan Puncak

Menahan Puncak

oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Aku bingung mengais masa depan
Berjaga selalu agar tak mundur
Karena apa daya pada masa lalu
Sampai aku temukan memori dalam otak

Untuk apa menyesalkan masa lalu?
Apa guna mempersulit masa depan?
Sedangkan masa kini lebih genting
Kenapa?

Tentu saja tak terlihat dan terdengar sebuah masa depan
Bilamana masa kini tak berdasar
Bilamana masa kini selalu ditundakan
Bilamana masa kini selalu diringkus

Banyaknya embun pada siang hari
Mengisyaratkan kejanggalan
Ya, tentu saja
Bagaimana tidak jika embun harusnya kuresap dini hari

Ketika kicauan bergurau dalam sunyi
Terus saja menatap wajah pada kaca
Menyusuri dunia berjenis maya
Menahan penat atau menunda puncak?

Puisi Tepatkah Posisiku?

Tepatkah Posisiku?


oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Huru-hara melambai hingga nyiur
Gunjingan nada tak karuan
Menyapu sepi kian demikian
Mengambang pada batas waras

Siapakah aku berdiri tak tentu?
Menunggu celah untuk bertanya
Namun pada siapa perlu kuungkap?
Menadah ingin walau tak mudah

Berada di persimbangan dan ambang
Keduanya tak mau untuk dipijak
Lalu kemana harus berteguh?
Kemana jua harus berhenti?

Lembayung senja tertulis tanpa arah
Meneguk air sungai yang jadi baik
Ada banyak talas hanyut dalam arus
Mendua wajah 'kan menopang luka

Puisi Berdalang Bahasa Tidak Bersama

Berdalang Bahasa Tidak Bersama


oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Seikat buah bibir bermakna fana
Sebuah janji yang diterpa
Hebat sekali manusia berdalang
Meniti hubungan lewat bahasa

Bak bayangan pada pukul 12 siang
Terlihat jelas buramnya
Bahkan gelap tampaknya
Hingga garis berdalih tegas

Sayang sekali, bukan ungkapan cinta
Bahasa palsu terus merintih
Paksaan ego hendaknya dibungkam
Agar jerih payah tak menjerit

"Dapatkah kau dengar?"
Denging telinga tak acuh lagi
"Sudahkah aku terganti?"
Betapa yang lalu tak lagi diingat

Berkumpulpun tak ada kritik
Mendekatpun tak ada bising
Menempelpun tak ada hati
Melirikpun hanya sedetik

Lantas bagaimana dengan sumpah kelingking
Menapak ramai pada dunia maya
Mungkinkah harus menunggu sakit?
Agar tumbuh rasa dalam-dalam

Menanyakan realita pada skema
Tak ada guna mendengar 'kini'
Jika tak punya ingin di hati
Apalagi bersusah perwajahan 

Saturday, 26 August 2017

Syair Hewan Bernama Manusia

Hewan Bernama Manusia


oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Berasap lembut berhawa keras
Bertiup jua, menerka rasa
Berbalik kiri lalu kanan

Seekor manusia
Telah berlaku hewan
Seorang manusia 
Bersama dengan etika

Tiba berdiri dengan bercanda
Berlaku ramai, cepat berlalu
Siapa pandai menerka?
Kadang diam, diam disitu

Saatnya berpandang dalam
Dalam kalanya berlaku jahat
Itu saja

Thursday, 17 August 2017

Kembali Ada (Puisi Cinta)

Kembali Ada

oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Masih dan berbeda
Layaknya wewangian yang biasa dipakai
Wangi tetapi tak mengejutkan

Serasa kemarin sore
Berulang kali naik turun
Bertatap dengan banyak orang
Dengan noder yang sama

Menarik tanpa memikat
Menggetarkan tanpa goyah
Teramat biasa namun menyudut

Kata-kata pengalih terlontar
Untuk hiasan yang bermakna, kukira
Tanpa kata 'hanya'
Meski pagi ini datar tanpa bermurung hati

Thursday, 20 July 2017

Ternyata Sama (Puisi Cinta)

Ternyata Sama 


Oleh Nilam Fajar Mahyumi 


Betapa mengetahui lewat mata
Betapa menyimak lewat telinga
Ternyata sama saja yang diterima

Bagaimana tidak?
Ia yang diharapkan
Ternyata, ya!
Ya, diharapkan orang lain pula

Apa yang mereka terima
Ternyata sama saja yang kuterima
Bukan pahit, bukan sesak
Melainkan kejutan

Bagaimana tidak?
Ia yang ramah
Ia yang penuh cita
Tanpa bersandiwara

Sunday, 9 July 2017

syair Membawa Riuh Menjadi Sepi

Membawa Riuh Menjadi Sepi

oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Sepi.

Sepi rasanya
Sepi terasa
Rasanya sepi
Rasa sepi

Riuh.

Riuh melupa
Riuhnya dilupa
Melupa Riuh
Lupa riuh

Tetap saja merasa cemas
Masih saja merasa gundah

Sedikit pesan
Eratnya hubungan
Menjadikan kira semakin dalam
Bukan teater namun dramatis!

Wajar, sebagaimana mestinya
Masih dalam, masih terasa
Tak apa. 

Syair Rantau Membawa Rindu

Rantau Membawa Rindu

oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Kalanya, rasa bebas, indah bayangannya
Kalanya, jauh dan lama, hebat rasanya

Kala ini, kontras sangat terasa
Merasa perlu bertanya
Merasa perlu bercanda
Merasa perlu bercerita

Tahukah ungkapan terbaik?
Merasa perlu bertemu!

Apapun membawa rindu

Syair Rantau Membawa Rasa

Rantau Membawa Rasa

oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Mengapa rasanya bisa sesepat ini?
Memang tanda tanya
Tak biasa karenanya
Sakit begitu, sesak pula

Laluku tak begini
Ada rasa ini namun tak penuh
Ada rasa ini namun tak dalam

Khawatir berlebih karena mereka
Baikkah mereka?
Sehatkah mereka?
Rindukah mereka?
Nyamankah mereka?
Bahagiakah mereka?

Penuh tanda tanya yang, sebenarnya, mudah terjawab
Menurutmu, apa yang membuat orang terpisah?

Bak putri duyung menjatuhkan mutiara
Kata orang, akan lega jika melakukannya
Nyatanya, belum!
Rasanya masih luar biasa
Sangat tidak biasa
Gusti Pangeran! Tolonglah!


Thursday, 25 May 2017

Teratai Kebiruan (Syair Cinta)

Teratai Kebiruan

(Nilam Fajar Mahyumi)


Balutan kostum lugu
Diiringi dentuman tapak di tangga kasta
Menghadang anak panah daripadaku
Sama sekali bukan kejutan

Aku dalam ujung barisan
Diselingi bulu mata nan kian bergurau
Jugapun helaan tanpa kabar
Seketika menduga dagu

Itukah sulur baru?
Pengalih berbagai gincu
Menjadi magnet dalam tatanan baru
Mengalahkan berita kerajaan itu

Aku mengaku biru
Tampaknya, teratai dalam pihak biru
Sembari kerajaan mendalangi norma
Berhasillah teratai dirakitnya

Teratai dikebiruan
Nyaris tumbuh di air biru saja
Hingga air lain menampakkan irinya
Seberuntung itukah?

Sekalipun tak pernah mengabir sulur baru
Hingga hati air birupun terkungkung
Lantaran nyaman disebelahnya
Berkat rakitan teratai kerajaan

Solo, 13 Februari 2017




Terima kasih ELLUNAR PUBLISHER
email ellunar.publisher@gmail.com
instagram @ellunarpublish_
website www.ellunarpublisher.com

LOVE RHYME


(cetakan pertama April 2017, Bandung)



Friday, 12 May 2017

Ragu yang Takut (Puisi Cinta)

Ragu yang Takut


(Nilam Fajar Mahyumi)

Takut!
Kenapa semua kuingat?
Sekecil tatapan
Sesingkat candaan
Sedikit luapan
Sependek iringan
Sebentar saja

Bergejolak!
Terbang dan melayang
Hingga jatuh dan tertindas
Aku yakin bahwa tidak yakin

Ucapan yang sempurna
Itu yang kusuka
Sangat membuka yang baru
Akan jadi luka?
Atau jadi suka?
Semua hampir cita!

Tidakkah ada gunanya?
Itu usahaku!
Hanya satu dan tidak lagi

Haruskah kupegang teguh mitos dan pemikiran itu?
Bukan lagi suatu hal yang fana
Oh, mungkin saja masih fana
Fana, untukku.

Teka-teki yang sangat berbeda
Balasan yang tak biasa
Aku ragu
Karena aku takut
Tentu saja takut berlabuh
Pelabuhan yang pasti tak ada pastinya

Tujuh hari lagi
Siapa akan sangka?


-0,1 dan +0,1 (Puisi Cinta)

-0,1 dan +0,1

(Nilam Fajar Mahyumi)


Tulisan itu benar-benar mempan
Tentu saja!
Bagaimana bisa aku menolak
Bahkan ulat bulu akan merinding dibuatnya
Pemilah diksi terbaik

Terlalu berlebihkah?
Itu salahmu!
Aku bahkan tidak menyangka
Namun, bukan rasa tertinggi
Aneh yang tetap kurasa

Suara bising daripadamu
Mengalihkan semuanya
Padahal penampakan di depanku jauh lebih asyik
Hingga tidak kurasa apapun
Benar!
Bahkan tidak kudengar apapun

Tapak-tapak putaran yang kita buat
Benar membuat lelah
Namun, bukan apa-apa
Aku lebih menikmatinya
Ketimbang kumbang bersarang

Mulut mulai bergema
Bibir tiba bercanda
Bahkan dahaga tak kurasa
Suasana yang benar-benar membuatku nyaman
Keringat kedua tak seharusnya hadir
Tapi aku suka

Berkali-kali dan aku suka
Sangat banyak baiknya

Candaan yang makin memperthatikanmu
Lama-lama nyaman dibuatmu
Arah itu makin membuatku malu
Bak mentari tak jadi bersirna
Karena mendung membuatnya malu
Tapi kau bukan mendung
Mata itu untuk kali pertamanya

Aku bingung
Kemana aku harus memandang
Membuatku geli
Bisa-bisanya!

Jam berapa ini?
Putaran detik yang berulang sangat cepat
Aku tak merasakannya
Bahkan rasa yang harusnya aku rasakan biasanya, tak muncul
Aneh saja.

Lontaranmu sama!
Aku senang!
Bahkan sangat senang
Apa kau juga?

Mata itu lagi!
Kali ini aku tidak akan menghindar
Benar-benar indah
Nyatanya bertuju mataku
Aku makin senang!

Kenyamananmu lebih berarti
Bahkan lebih dari pandangan itu
Matamu itu bumi dan dirimu dunia
Aku lebih senang dengan tenangnya daripadamu
Membuatku bahagia
Ya, tahap bahagia, sekarang

Lalu, bukan perpisahan
Hanya saja memang harus pulang
Aku yakin, ini bukan nol
Selalu ada -0,1 dan +0,1

Friday, 28 April 2017

Syair Bagaimana dengan Kucing?

Bagaimana dengan Kucing?

(oleh : Nilam Fajar Mahyumi)



Berangan terlalu jauh
Bergerak kaku dalan tentuan
Mengikat erat
Mengikhlas sesak

Bukan tekanan
Melainkan pilihan
Bukan neraka
Melainkan surga

Bahkan kelingking terlanjur membungkuk
Lengkungannya menggapai hati 
Suatu kesenangan yang nikmat
Suatu kecanduan yang nikmat

Dengan begitu, rasa semakin asa
Dada semakin ada

Sepertinya kucing ingin bersahabat
Meski debat ailurophobia selalu tak berjeda

Syair Bahkan Debu Menyejukkan

Bahkan Debu Menyejukkan


(oleh Nilam Fajar Mahyumi)



Bukan pohon jika tak berbatang
Bukan rumah jika tak beratap

Tetaplah bercelah sekalipun datang debu
Tetaplah berbias sekalipun dalam gelap
Tetaplah membara sekalipun di atas air

Bayangkan tak ada debu!
Akankah datang sejuk?
Bayangkan tak ada gelap!
Akankah ada terang?
Bayangkan pula tak ada air!
Bisakah hidup?

Thursday, 9 February 2017

Syair 'apa salahnya menolak?'

Apa Salahnya Menolak?


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Kalau kubuka dikira melirik
Kalau kulihat dikira melotot

Apa salahnya menolak pintu cela
Celanya yang tak terlihat
Terlihat dalam vokal implementasi
Implementasi yang sudah seharusnya tidak
Tidak untuk diimplementasikan

Bukan keburukan yang nyata
BUkan pula keburukan yang fana
Nyata, dapat tersentuh
Fana, bukan realita penuh

Syair 'sapu bergilir'

Sapu Bergilir


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Giliraan
Bergilir
Sengaja digilir
Harus digilir

Memang belum sempurna
Atau mungkin memang tidak sempurna

Mungkin tidak sepenuhnya siap
Juga mungkkin tidak seluruhnya siap
Tidak pula menyiapkan kepura-puraan
Pura-pura yang tidak disengaja
Atau mungkin sengaja namun tidak terencana

Tetapi kami bersiap
Masih terus bersiap-siap
Menyiapkan banyak hal
Oh, bukan!
Menyiapkan beberapa hal
Karena banyak hal di luar dugaan
Banyak hal tidak terencana

Jangan salah!
Ada satu yang kami siapkan
Sapu

Banyak makna tentang sapu
Bisakah?
Dapatkah?
Perlukan?
Mungkinkah?
Terimalah!
Tolonglah!
Jabarkanlah!

Syair 'pasar'

Pasar


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Menukar uang 
Menukar barang 
Menukar jasa

Mencari keinginan
Mencari kebutuhan
Mencari kesempatan

Mendapat impi
Mendapat peluh
Mendapat untung

Jangan lupakan kata 'rugi'

Syair 'gigi'

Gigi


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Katanya kalau senang
Katanya kalau ceria
Katanya kalau suka
Katanya kalau nyengir
Katanya kalau ngenakin
Katanya kalau nyenengin

Dan semua 'katanya kalau-katanya kalau' lainnya

Walau terbukti
Gigi bukan sebagai simbol bahagia saja
Walau terbukti
Gigi banyak ditampakkan kapan saja

Jikalau gigi bukan gigi
Lalu apa maksudnya?
Lalu apa maknanya?

Syair 'kata warisan"

Kata Warisan


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Tidakkah kau paham?
Ilusi dalam mahkota
Kau agungkan dalam jiwa
Tidakkah kau paham?
Itu hanya angan
Hingga menjadi keyakinan

Bukan religi yang kumaksud
Ini mengenai kata
Kata, frasa, klausa, kalimat
Rasa dan perasaan
Pikir dan pikiran

Lalu,
Merah yang sering diartikan berani
Merah yang sering diartikan energi
Merah yang sering diartikan nekat
Merah yang sering diartikan gairah

Juga,
Tradisi yang dikenal unik
Tradisi yang dikenal berlanjut
Tradisi yang dikenal tersebar
Tradisi yang dikenal beragam

Merah dalam tradisi
Mengungkapkan banyak tanya
Apa katamu, apa katanya
Mungkin jadi siput
Bahkan jadi singa

Kali ini
Singa dan siout akan kusebut makhluk
Kali ini
Tempatkan beda sudut pandangmu

Wednesday, 8 February 2017

Yes, I do! (Puisi Cinta)

Yes, I do


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Kata orang, cinta makan hati
Nyatanya, cinta mantapkan hati
Mereka bilang, dia berselera tinggi
Nyatanya, semua dibuatnya luluh hati 

Yes, I do!
Kukatakan kemarin padanya
Yes, I do!
Bukti kuyakin padanya

Sekalipun aku tak pernah bermain-main
Sekalipun aku tak pernah

Yes, I do!
Kuserahkan hatiku padanya
Yes, I do!
Kumau hidup dengannya

menunggu (Puisi Cinta)

Menunggu


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Terdengarkah hentak kakiku?
Terdengarkah detak jantungku?
Terdengarkah kedip mataku?
Terdengarkah hembus napasku?

Aku duduk di depanmu
Sampai kini, aku masih menunggu
Menunggumu, aku disini
Hanya untuk melihat senyum bibirmu
Hanya untuk mendengar suara indahmu

Jangan lagi kau menjauhiku

Syair 'ingin kulupa'

Ingin Kulupa


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Rasa malu itu terus ada
Berlalu, dan aku masih malu
Hingga semua teralih pada hal itu
Bodohnya bertingkah seperti itu

Tak bisa aku berpikir jernih
Hanya karena ngiang
Ingatan buruk itu

Rasanya jadi tersudut
Hawa kelabu menusuk kalbu

Sampai kutulis jelas
Bahwa aku malu
Jangan lagi kau ingat!

hampir patah (Puisi Cinta)

Hampir Patah

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Bersekat dan masih ada jarak
Meski tak saling menatap
Terus tuai asa tanpa henti
Demi baiknya nanti

Kita hampir patah
Lewati detik terpisah
Ketika saling berhadap
Terikatlah jari dan sukma

Hingga suatu masa
Sabarmu, sabarku juga
Kuatmu, kuatku juga
Rasamu, rasaku juga

aku tulus (Puisi Cinta)

Aku Tulus


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Kau kesayanganku
Benar-benar buatku tak bisa lepas

Namun kini, alur indah telah berubah
Memang kau tetap yang kusuka
Dengan egomu, dengan amarahmu
Yang kini, membuatku tersiksa
Merasa terpental keluar angkasa
Lalu sulit 'tuk kembali
Terpenjara dalam rasa sayang

Kadang tersirat untuk pergi
Dengan rasa yang selamanya dalam
Kadang tersurat untuk tinggal
Dengan siksa seberat langit

Dayaku apa?
Meski pintamu kau kujauhi
Tapi rasa dan logikaku tak ingin itu

Syair 'Butuh'

Butuh


oleh Nilam Fajar Mahyumi


Lemah dan tak seorangpun lihat
Lelah dan tak seorangpun tahu
Sedih dan tak seorangpun paham
Sakit dan tak seorangpun bantu

Bisakah kau bantu aku?
Ulurkanlah tanganmu!
Akan kutunggu, pasti!
Kemudian, kuraih itu.

Memang ikhlas
Namun, kiranya datanglah!
Memang senang
Namun, kiranya hiburlah!

Syair 'TOSSS'

TOSSS

(Totalitas Optimis Semangat-semangat-semangat)

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Beber-bebek beriringan
Menuju sungai berlarian
Telah lama kita berteman
Jangan sampai terpisahkan

Lakukan hal bodoh bersama
Hal benar tak dilupakan
Tertawa adalah kebiasaan
Tangispun tak disesalkan

Totalitas leburkan jalan
Optimis pada tujuan
Semangat dalam hati dan pikiran

Lalu, jadilah kita satu
Meski darah bukan satu


note:
(Totalitas Optimis Semangat-semangat-semangat)
-jargon UKM KMF FIB UNS-

Syair 'the night ending'

The Night Ending

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Last night, people were stuck
They had no conversation
Bored, annoyed, and disappointed
That was a dark night
When every people got a problem

But now, it is a long night
They play a fun game
Then, make a conversation
Laughing, talking, and joking

Everythink becomes a dialogue
Not just a nice topic, but also an unique tragedy

However, all of mistakes will be forgotten
Shaking hand, hugging, and smiling
Those are the ending

Syair 'semut bertunas'

Semut Bertunas

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Kelabu memicu gugup
Helai runtuh berantakan
Setapak ragu melaju
Angsana lebat berkabut


Gundah gulana melingkup citra
Puluhan bibir menaruh ragu
Berteguh hati seperti semut
Kecil yang bertunas


Terdorong atau tertekan
Tertarik atau terulur
Sekutu mengambil asa
Risiko di muka citra, rasa, dan daya

Syair 'bendungan'

BENDUNGAN

oleh Nilam Fajar Mahyumi


Getar gurau dan debat
Berlanjut hingga peluh menetes
Terukir indah dengan prahara

Bersatu beralunan
Dalam lingkaran berporos
Lalu berputar dan tak pernah putus

Emosi dan hasratnya egois
Namun, bendungan bertahan
Luapannya menjadi normal

Rasanya seperti perang
kehendak berharap-harap
Tertuju elok pada akhirnya