Tuesday, 16 January 2018

Puisi Candaan Lintah

Candaan Lintah

oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Entah bagaimana ketika aku hendak berlayar
Entah apa dalam benak mereka tersiar
Entah mengapa begitu berlebih menaruh curiga
Entah siapa saja yang berprasangka

Sudiku berteman dengan orang tak tahu malu
Jelas saja tak masalah baginya
Disini, aku yang berada di pintu singa
Menjalani kehidupan normal yang baik saja

Kesal, jelas datang menemuiku
Bisa-bisanya manusia berakal menuntahkan lintah
Padahal jelas-jelas lintah itu tak baik untukku
Di balik jendela belapis mendung, aku terluka
Meski hanya ungkapan candaan yang disengaja


Jakarta, 15 Januari 2018

Monday, 15 January 2018

Puisi Lewat Teka-teki yang Berilusi

Lewat Teka-teki yang Berilusi

oleh: Nilam Fajar Mahyumi



Mampu memanggil namun tak kuat menahan
Koneksi berlayar penuh meski tak konsisten ada
Hebat benar rasanya mendapat kabar
Dalam beberapa saat menebar asa pada rasa

Tak lama, akhirnya tersadar jua
Ternyata semua hanya ilusi
Menyusun teka-taki demi senangnya hati
Meski tidak salah menjalani dunia

Mudah saja sekarang memberhentikan
Tak lagi berlarut-larut merasa sakit
Banyak sensasi menantang diri
Menegangkan situasi ketika hendak bertekad

Berlabuh kemana saja, bukan masalah rumit
Asal semua yang terkait mampu menanggung
Karena hati tak berdiri sendiri
Butuh ribuan untuk menjadi temu

Jakarta, 13 Januari 2018

Puisi Bara dan Tanah

Bara dan Tanah

oleh Nilam Fajar Mahyumi

nilam fajar

Satu bara saja mampu membakar habis
Bayangkan betapa indahnya rumah di sisi desa
Bunga menjadi pagar kuat
Menghadang hewan mencuri beras

Namun satu bara hanya masuk seenaknya
Tak hanya membakar rumah dan bunga 
Tetapi tanah yang tak bersalah
Sungguh akan menyesal sebuah bara

Sudahkan bermuram durja?
Kapan akan selesai bak kembang api?
Memiliki pangkal lalu berujung
Tanpa menjalar hingga besi


Jakarta, 8 Januari 2018

Puisi Jakarta Sepi

Jakarta Sepi

oleh Nilam Fajar Mahyumi



Jakarta tak lagi ramai
Pada pijakan baru mengintip mesra
Itukah jalannya? Sepi.
Terjal krakal tak mampu lagi sejajar

Sesaat hangatnya terasa
Namun kasta menusuk perlahan
Berlebihan dalam satu perspektif
Relatif untuk setiap ukuran

Tak menjadikan resah
Akibat terasa dalam jiwa
Karena sebagaimana aku memilih jalan
Selalu membuka lebar payung rasa

Balik dan susuri celah pagar besi
Menilik habitat yang penuh ironi
Berlalu lalang tanpa sapaan bergigi
Hanya kreasi mesin pengungkit


Jakarta, 8 Januari 2018

Puisi Meniti Romansa Jiwa

Meniti Romansa Jiwa

oleh: Nilam Fajar Mahyumi


Kala muncul sebuah tuah
Pada terik dan gempita hari
Ada saja berburuk sangka
Akan benda yang hidup sempurna

Hela berat tak lagi terkejut
Demi jiwa yang bermerah muda
Sumpah, sulit menahan gelap
Bagai tarik pada sehelai benang

Sungguh. 
Datang berganti tanpa ijin
Sungguh.
Sesak berdrama demi api dalam kandang

Meniti hati menuju senja
Mengikat mulut menuju fajar
Romansa jiwa agar tak rapuh
Membiasa diri untuk bersikap


Jakarta, 8 Januari 2018

Monday, 1 January 2018

Puisi Nuansa Masam

Nuansa Masam 

oleh: Nilam Fajar Mahyumi

Pembeda hanyalah pembeda
Pembatas tak lagi jelas
Ketika arang menemui batas hampa
Persilahkan ia untuk memilih

Tak hanya itu, persiapkan ia mendengar dan merasa
Akibat seperti apa yang akan diterima
Karena karma selalu bertanya, "Kepada siapa?"
Jelas saja manusia tak mau terlihat berdosa

Hikayat mampu memberi rasa nostalgia
Indah, sakit, asin bahkan rusak
Penyebab aura bernuansa macam-macam
Entah itu manis atau masam

Tak perlu kuatir karena ada pembatas yang masih mampu,
untuk menarik sepatu
agar tak jatuh maupun menginjak
Bukan terinjak karena perisai ada pada semua manusia

Ularpun bertanya, "Mengapa engkau mengabaikan semut di bawahmu?"
"Tak sekalipun aku melihatnya. Sungguh." teriak sang rubah

Hingga anginpun ikut bertindak.
Jika dipikir, untuk apa? Siapa memang?"
Bahkan rasapun mampu menipu
Apalagi bibir.

Namun, siapa sangka jika sang rubah berkata jujur.
Itu mengapa sebuah 'andai' perlu sebuah 'bukti'.

Surakarta, Desember 2017